Sunday, March 15, 2009

Ikat Rambut

This not a love story, but a story about love

Aku mengagumi ikat rambut. Tapi entah mengapa, sejak pertemuan kami yang pertama 13 tahun yang lalu, akhirnya kami berpisah menurutkan jalan masing-masing. Ia lenyap begitu saja mengembara dari rambut yang satu ke rambut lainnya, sedangkan aku? huh...mengembara dari musim satu ke musim lainnya.
Absurd? yah kupikir juga begitu.

Semenjak kepergiannya rambutku selalu kusam tak pernah tersentuh olehnya. sehari dua hari aku tak pernah memikirkan, sampai kusadari kalau aku mulai kehilangan dan mulai mencintainya. ku mulai merindukan perangainya, tatapan matanya dan...cubitannya. Dulu kami sering bercakap tentang segala sesuatu yang menyenangkan hatinya, menyedihkan hatinya atau apa saja. Absurd? yah kupikir juga begitu

13 tahun berjalan, tiba-tiba ku menemukannya begitu saja. Tidak banyak yang berubah, ia masih ikat rambut yang selalu cerewet dan galak, tapi itulah yang membuatku makin menyintainya. kami saling menanyakan kabar masing-masing dan diam diam aku makin terpesona olehnya. Tapi ada satu hal yang membuatku sedih. Ia mengatakan benci dengan semua rambut yang pernah disinggahinya. "Rambut itu penyakit, tak bisa dipercaya, jikalau mungkin aku hanya ingin bergaul dengan sesama ikat rambut saja". Katanya berang.
Absurd? yah kupikir juga begitu

Aku sendiri cemas memikirkannya. Ia tampak bingung, penuh dendam, sekaligus menawan. Ku takut kehilangannya lagi. "Jangan pergi lagi tanpa pamit padaku, bersemayamlah diatas rambutku".Kataku membujuk. Permohonanku tertiup angin, ia hanya diam, hanya kebisuannyalah yang menggema lenyap begitu saja, persis seperti 13 tahun lalu.
Kupikir cinta memang selalu begitu,bila dipaksakan sangat lelah, dan bila dilepaskan akan sangat sakit. Dalam perjalananku mengarungi musim, tak letih-letihnya ia kucari.
Absurd? Tidak, kupikir tidak begitu

This not a love story, but a story about love

images: thehipinfant.com.au

No comments:

Post a Comment