Sebuah Wacana
Sewaktu sedang bingung, terpekur, dan jemari sepertinya kaku mau menulis apa, tiba-tiba masuk pesan dalam Inbox Facebook saya yang isinya kira-kira seperti ini: Setelah beberapa waktu lalu Hijau Daun mengumumkan bahwa lagu mereka di download oleh 3 juta orang. Maka minggu ini lagu dengan download di atas 4 juta adalah Vagetos, Hijau Daun, dan Wali. Itu artinya mereka meraup uang di atas 25 milyar rupiah. “Ternyata jadi kaya raya itu sekarang gampang ya,” ujar Remi Soetansyah, penulis dan pengamat musik senior yang diam-diam saya kagumi dan kebetulan juga sang pemberi pesan di Inbox saya tersebut.
Saya bukan tipikal penulis serius. Tapi demi menjunjung tinggi etika jurnalisme, terpaksa saya harus memartisi topik ini menjadi 2 bagian. Chapter I dan Chapter II. Ah, saya setuju, etika kadang memang menyebalkan.
Chapter I: Pop Melayu Dan Standarisasi
Cerita berlanjut. Saya kemudian terpekur lagi. Bukan terpekur karena kehabisan ide. Tapi karena saking banyaknya pertanyaan yang ingin dimuntahkan. Saya bertanya-tanya, kenapa dengan mudahnya Vagetoz, Hijau Daun, dan Wali meraup masing-masing di atas 4 juta kopi RBT? Salut untuk mereka. Setelah berpikir sejenak, saya mengambil kesimpulan. Jawabannya karena ketiga band tersebut kebetulan mengusung genre yang sama –pop melayu! Salahkah mereka mengusung pop melayu? Sekali-kali tidak. Sama seperti band Anda yang mengusung pop, rock, metal atau apapun jenis musik lainnya, tidak ada satu genre pun yang buruk atau salah. Asal diikuti dengan musikalitas dan seni yang dapat dipertanggung jawabkan.
Industri musik kita saat ini memang membingungkan. Di satu pihak mengeluh akan maraknya pembajakan yang berakibat lesunya penjualan CD/kaset fisik. Tapi di sisi lain semakin banyak band-band baru bermunculan. Tapi kita patut bersyukur. Karena musik Indonesia kini sudah demikian luasnya diterima oleh masyarakat dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Berbanding terbalik dengan fenomena beberapa tahun lalu, dimana musik luar masih mendominasi pasar. Tapi apakah dengan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kualitas serta merta juga menguat?
Menyoal masalah kualitas, sebelumnya kita bertanya kepada diri sendiri dulu. Apakah band kita memiliki standar kualitas musik? Apa label juga memiliki standar kualitas musik? Dan terakhir, apa pendengar lokal juga memiliki standar kualitas musik? Sayangnya di Indonesia tidak ada standarnya sama sekali. Karena masing-masing pihak memiliki standar acuan berdasar keuntungan masing-masing. Ku garuk punggungmu, kau garuk punggungku. Jadi harus ada timbale balik. Maksudnya begini, band tentunya ingin terkenal tapi juga tidak mau dicucuk hidungnya oleh label, sedangkan label, karena visinya murni bisnis, pastinya ingin mendapat untung sebesar-besarnya dari “investasi” yang telah mereka keluarkan.
Chapter II: Termehek-Mehek
Akibatnya terjadi clash. Label hanya mau mengontrak band yang sesuai visi serta trend musik yang sekarang berjalan. “Bila trend sekarang pop melayu, you harus pop melayu. No melayu, no sign contract,” begitu kira-kira. Karena memang trend seperti itu, akhirnya band harus mengalah lalu membuat karya “termehek-mehek” yang sebenarnya tidak sesuai dengan visi awal band. Adakah kualitas di sini? You decide…
Lalu salahkah label? Tidak. Karena itu tadi, it’s called running out of business. Ini semata hanya bisnis. Jadi tergantung pihak bandnya, mau tetap bersikukuh dengan visinya atau mau mengorbankan demi sebuah jalan bernama ketenaran. Tapi sekali lagi, tidak ada yang salah dengan genre pop melayu, bila visi band Anda memang awalnya di situ serta bisa dipertanggungjawabkan secara penuh. Intinya adalah band tersebut. Lakukan apa yang harus dilakukan, dan jangan pernah mau dicucuk oleh apapun juga.
Jujur, saya rindu mendengar lirik positif yang kini mulai jarang ditulis oleh band. Saat ini yang saya temui hanya lirik perselingkuhan, kekasih gelap, istri tiga, dan hal-hal negatif enggak penting lainnya. Lirik cinta tidak salah. indah malah, asal kontasinya jelas dan positif. Karena sejatinya band berhubungan erat dengan seni, sebagai pelaku seni, band juga harus mengedukasi masyarakat lewat lirikal positif. Lalu apakah musik Indonesia mengalami kemajuan pesat, atau malah mundur tak tentu arah? Sekali lagi, Andalah yang menilai…
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment